1N3B

Education should be free from Geographic, Ethnicity, Religion, Race, and Social Group Isolation

Ini 5 Alasan Kenapa Kami tetap Membeli Buku untuk Menambah Koleksi Rumah Baca, walaupun Sudah Ada Buku Sumbangan

  • Pembelian buku tidak dapat dihindari untuk melengkapi koleksi rumah baca

  • Buku adalah jendela dunia 

Koleksi Buku adalah jendela dunia di Rumah Baca Woka Ngiapajaar

Koleksi Buku adalah jendela dunia di Rumah Baca Woka Ngiapajaar. Rumah baca yang berada di Desa Ngadulanggi, Sumba Timur ini merupakan buah kerja sama 1N3B bersama masyarakat setempat.

Pembelian Buku adalah jendela dunia sebagai sebuah pertanyaan, mencuat pada saat para kakak 1N3B  sedang asyik menyampul buku di Rumah Kak Lies minggu lalu,

“ngapain sih beli buku lagi? Kan sudah banyak buku sumbangan yang masuk.”

Kalau dipikir-pikir sekilas, sih, emang iya.

Ngapain juga beli buku lagi. Toh buku sumbangan dah banyak ini dan para donatur juga ada yang  menyumbang buku baru.

Ngapain capek-capek cari dana untuk buat beli buku. Apalagi harga buku di negara ini relatif mahal (bagi sebagian besar masyarakat Indonesia).

Sebuah buku ibarat taman bunga yang di bawa dalam kantong.


~ Peribahasa Cina

 

JENG… JENG…

Kenapaa yaaa?!…

Kasih tahu, gak, yaaa…?!

Jadi begini, nih, Bro n Sist,

Lets  cekidod  the reasons below:

1.      Perpustakaan atau rumah baca yang didirikan merupakan rumah baca umum

Berbeda dengan perpustakaan sekolah yang didominasi oleh buku-buku terkait pelajaran dan diperuntukkan bagi para pelajar dan guru di sekolah tersebut, rumah baca yang bersifat umum maka jenis koleksi buku yang disediakan lebih beragam dan dapat diakses oleh masyarakat dari segala tingkatan usia dan latar belakang.

Rumah Baca Sungai Lisai

Rumah Baca Sungai Lisai. Rumah baca yang terletak di Desa Sungai Lisai, Bengkulu ini terbuka untuk umum.

2.      Belum semua jenis buku yang dibutuhkan terpenuhi 

Buku sumbangan sangat banyak kami terima dan kami sangat berterima kasih kepada para donatur yang telah menyumbangkan berbagai jenis buku dengan tulus hati. Tidak jarang, lho, para donatur merelakan koleksi buku kesayangannya untuk berpindah menjadi koleksi rumah baca yang akan didirikan oleh 1N3B bersama masyarakat setempat.

Namun demikian, pada kenyataannya, sumbangan buku tersebut masih belum cukup untuk memenuhi jenis buku yang dibutuhkan oleh masyarakat yang berada di sekitar lokasi rumah baca.

Sebelum mengadakan kegiatan, kami menjalin komunikasi terlebih dahulu dengan narahubung di lokasi atau melakukan survei. Salah satu data yang kami minta adalah jenis buku apa saja yang dibutuhkan. Karena bisa jadi kebutuhan jenis buku bacaan di suatu lokasi berbeda dengan lokasi lainnya. Misal, ada yang lebih banyak membutuhkan buku-buku non pelajaran, karena buku pelajarannya sudah banyak tersedia secara gratis di perpustakaan sekolah.

Berdasarkan pengalaman kami selama ini, terdapat beberapa jenis buku bacaan yang dibutuhkan oleh masyarakat setempat, diantaranya adalah:

  • Buku pertanian, peternakan dan perkebunan;
  • Buku administrasi, seperti cara menulis surat, cara menyampaikan pidato;
  • Buku bertema anak-anak terutama Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD);
  • Buku pelengkap pengajaran di Sekolah, sepeti buku baris-berbaris, buku pramuka, buku latihan ujian nasional; dan
  • Buku keterampilan.

Proses administrasi buku di Posko Tebet. Proses administrasi buku donasi termasuk didalamnya adalah memilah-milah buku yang layak kirim.

3.      Buku Pelajaran yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku

Kakak pembaca yang budiman, pernah baca berita beberapa tahun yang lalu  tentang pergantian kurikulum di sekolah?. Salah satunya adalah berita pergantian dari kurikulum 2006 menjadi kurikulum 2013, yang kemudian berganti lagi menjadi kurikulum 2006. Terakhir pada bulan April 2017, kurikulum Tahun 2013 diberlakukan kembali.

Pergantian kurikulum di Indonesia tercatat dimulai tahun 1947 dengan nama “Rencana Pembelajaran” yang kemudian berganti menjadi “Rencana Pembelajaran Terurai” pada 1953. Kemudian berganti lagi menjadi kurikulum “Rencana Pendidikan” pada 1964 dan selanjutnya “Kurikulum 1968”. Pergantian selanjutnya secara berturut-turut adalah “Kurikulum 1975”, “Kurikulum 1984”, “Kurikulum 1999”, “Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)” 2004, “KTSP 2006”, “Kurikulum 2013”, sebelum akhirnya kembali lagi pada “KTSP 2006”

sumber: tirto.id

Hal penggunaan kurikulum disekolah ini, sempat membuat kami galau pada beberapa tahun yang lalu. Mau menyediakan buku pelajaran dengan kurikulum yang mana. Kami harus melakukan komunikasi secara intensif dengan narahubung beserta guru di lokasi kegiatan untuk memastikan kurikulum yang masih dipakai oleh sekolah di sana, agar tak salah kirim.

Selama ini kami  juga banyak menerima sumbangan buku-buku pelajaran dari para donatur, namun terkadang masih ditemukan yang kurikulum-nya ‘jadul’ dan buku-buku pelajaran yang penuh dengan coretan abadi alias  tidak memungkinkan untuk dihapus-hapus. Buku-buku donasi seperti, dengan sangat menyesa,l tidak dapat kami ikut sertakan sebagai koleksi rumah baca.

4.      Menyediakan buku-buku yang wajib ada

Sudah menjadi kebiasaan kami untuk menyediakan  beberapa buku, yang bisa dikatakan wajib menjadi koleksi buku pada setiap rumah baca yang didirikan oleh Komunitas 1N3B bersama masyarakat setempat. Buku-buku tersebut diantaranya adalah buku biografi para presiden RI, buku para pahlawan nasional, buku tentang seni dan budaya nasional serta buku Tetralogi Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata.

5.      Memenuhi Target buku yang telah ditentukan  

Buku adalah jendela Dunia. Sejak kegiatan Bagi Buku Bagi Ilmu Bagi Anak Negeri di Desa Madobag, Mentawai, kami selalu bermusyawarah dan bermufakat dalam menentukan target buku yang akan menjadi koleksi rumah baca. Paling sedikit kami menargetkan 1.000 buku siap baca.

Harapan kami adalah dengan semakin banyak buku maka semakin banyak pula jendela pengetahuan yang dibuka.

Kalau menurut salah seorang Kakak yang telah lama berkecimpung di 1N3B,  kalau dibayangkan, 1.000 buku itu kelihatannya memang banyak, ya. Tapi kalau sudah disusun rapi di rak buku, akan terlihat sedikit.

Adapun target pengumpulan buku  tahun ini adalah sebanyak 1.700 buku, sampai saat tulisan ini dipublikasikan,  telah terkumpul 1.368 judul buku/1,431 eksemplar.

Koleksi Buku adalah jendela dunia. Sebagian koleksi buku Rumah baca Mamiara Menua Padari - Mataso, Kalbar

Koleksi buku di Rumba Mamiara Menua Padari. Rumah Baca yang terletak di Mataso, dekat perbatasan Indonesia-Malaysia ini, mempunyai koleksi lebih dari 2.000 buku.

Trus, dimanakah biasanya membeli buku-buku tersebut?!

Sebenarnya kami tidak menentukan harus dimana-nya, sih, yang penting ada diskonannya, biar bisa dapat banyak 😉

  • Untuk buku-buku pelajaran biasanya kami membeli via Penerbit Airlangga, karena ada diskon lumayan, dikasih daftar buku pelajaran sehingga memudahkan untuk memilih-milih dan bisa dititipi untuk sekalian disampulkan.
  • Toko buku Toga Mas, kenapa di sini?! Sekali lagi, Diskon, dan mendapat fasilitas disampul plastik, gratis.
  • Acara obral buku bacaan di toko-toko buku besar seperti di Gramedia, Gunung Agung dan toko buku lainnya.
  • Toko Buku Online, enaknya belanja melalui toko buku online, tinggal memasukkan kata kunci buku yang akan dicari tanpa harus keliling dari satu rak ke rak buku lainnya, terkadang harganya lebih murah dari pada di toko buku offline, dan beberapa toko buku online juga menyediakan buku bekas yang masih sangat layak baca dengan harga murah.
  • Pusat jual-beli buku di Blok M Square, Jakarta dan Palasari, Bandung.
Koleksi Buku adalah jendela dunia di Toga Mas

Belanja buku baru. Para kakak 1N3B sedang memilih-milih buku yang akan dibeli di Toko buku Toga Mas, Depok.

Dengan semakin banyaknya koleksi “buku adalah jendela dunia” yang tersedia di rumah baca, dapat menjadikan rumah baca sebagai pusat informasi dan membuka akses bagi masyarakat dalam meningkatkan pengetahuan serta wawasan.

Bagi para Kakak atau para toko buku yang ingin membantu dalam penyediaan buku bagi rumah baca tahun ini, di Kepulauan Manipa, Kabari kami, ya!

 

More from Blogs
Back to Top