1N3B

Education should be free from Geographic, Ethnicity, Religion, Race, and Social Group Isolation

Berbagi Cerita dan Cinta di Sumba : Persiapan yang Melelahkan…

Mengiyakan menjadi kordinator rumah baca untuk acara 1n3b kali ini adalah jebakan yang mungkin telat untuk saya tampik. Bagaimana tidak? Ketika memulainya saya merasa sangat tidak tau apa apa tentang bagaimana mengelola rumba kecuali short course dari Mbak Titi Ungu pemegang kursi kepemimpinan Rumba dari tahun ke tahun yang komunitas 1n3b lakukan saat persiapan kegiatan yang sama tahun lalu.

Tahun lalu saya memang membantu persiapan tim Rumba sebagai ajang saya yang melenceng dari profesi saya saat itu, sekretaris yang tak pernah kerja dan melayani ketua, itupun hanya menjadi penyampul buku saja. hihihi.. Jebakan bermula dari sini.

Akhirnya dengan entengnya mbak Yoga ketua tahun ini memberikan mandat itu pada saya dan saya seperti kena guna guna, langsung mengiyakan! Lalu mulailah saya bergerelya mencari cari anggota dari berbagai kalangan.

Konsolidasi sana sini dengan kawan kawan lain supaya mau menjadi asisten saya (dimana tidak akan ada yang mau) awalnya terlihat cerah, tapi ternyata tidak membuahkan hasil maksimal di akhir. Mereka resign satu persatu tanpa meminta pesangon.

Ternyata tidak semudah itu mengajak teman teman untuk selalu mengikuti persiapan ini karena pastinya mereka memiliki kepentingan pribadi sendiri yang harus bisa kami maklumi. Tak patah semangat, akhirnya sesudah mengemukakan kesulitan saya pada forum, datanglah bala bantuan dari tim lain yang menyelamatkan divisi saya termasuk bantuan sporadis dari teman teman lain yang tidak berangkat. ūüôā

 

Dari berbagai informasi yang kami sebarluaskan melalui berbagai media, kamipun kebanjiran buku-buku dari berbagai kalangan. Konon, dahulu waktu 1n3b awalnya berdiri (kalau tidak salah masih mengatas namakan milis pangrango, kemudian berganti menjadi satu bumi) buku-buku yang disumbangkan adalah buku-buku bekas yang layak pakai. Buku buku itu ada cacat di beberapa lembarnya atau ada coretan di sana sini.

Untuk mengantisipasinya tahun lalu waktu persiapan ke Mentawai, kami memiliki beberapa kasta dalam tim ini, antara lain :

  • kasta penyortir bertugas menyortir buku buku yang layak untuk dikirim, kasta pengimput data bekerja memasukkan data soft copy buku dari nama penyumbang-judul buku-pengarang-penerbit-tempat terbit hingga jumlah eksemplar,
  • kasta penyampul bekerja dengan senang hati menyampul dengan benar supaya buku buku itu bisa bertahan lama,
  • kasta pelabel mereka adalah kasta terakhir yang harus menempeli buku buku itu dengan warna label yang sudah ditetapkan, dan terakhir
  • kasta paling rendah yaitu kasta penghapus! hahaha.. iya kasta penghapus karena kerjanya menghapusi coretan coretan di buku-buku yang masih layak pakai.

Bisa dibayangkan kan bagaimana kramnya tangan-tangan para kasta penghapus itu karena kami ingin buku buku itu tidak terbuang percuma dan bisa digunakan oleh teman teman yang akan kami sumbang.

Tahun ini, kasta penghapus tidak ada karena sudah tidak separah tahun sebelumnya, para penyumbang sudah lebih memahami benar bagaimana SOP kami di tim Rumba. Tidak boleh ada coretan, Tidak boleh ada yang robek, Tidak boleh berkurikulum kadaluwarsa sekali dan kalau bisa buku buku sudah disampul. hehehe… akan tetapi untuk yang terakhir sepertinya permintaan kami terlalu berlebihan sehingga hasilnya tidak seperti yang diharapkan.

Maka dari itu tiap minggu kami harus meluangkan waktu menyampul. Beberapa teman teman yang sudah punya kegiatan tersendiri di kala weekend harus rela membawa buku buku itu ke rumah masing masing, ada yang menyampul sambil berkencan, ada juga yang bangun tidur langsung menyampul, sebelum tidur mengimput data buku atau ada juga yang langsung menuju rumah abah di Pedongkelan Jakarta Barat (tempat buku-buku dikumpulkan) begitu kerja shift kerja-nya usai, ada yang bolak balik menjemput dan mengedrop buku setiap malam sepulang kerja.

Menyampul input dan melabel

Bahkan acara menyampul di Kebun Raya Bogorpun kami lakukan untuk menginisiasi semangat supaya tetap menyampul dan mengimput data sebelum tanggal target pengiriman terpenuhi.

Bayangkanlah… hehehe..

Tapi tunggu, ada juga yang menunggui buku buku itu siang malam setiap hari (ups! :D) Pada akhirnya acara penyampulan selalu dilakukan di rumah abah fakhrie, Pedongkelan Jakarta Barat. Yang jelas bisa ditebak hampir tiap weekend status FB kami akan hampir sama, semuanya pamer kegiatan yang sama, “menyampul buku yuk!”, “Dibutuhkan tenaga penyampul buku di rumah abah..”dan status status lain.

Sebenarnya divisi divisi lain juga sama repotnya. Divisi pendidikan dan kesehatan sibuk menyusun rencana dan obat apa saja yang harus dibawa di sana. Ini adalah kali kedua 1n3b menyisipkan program pelayanan kesehatan bagi penduduk setempat. Sebelumnya kami hanya memusatkan pada pendirian rumah baca dan permainan sains saja. Dari kabar yang tersiar dari tim kesehatan awalnya mereka kesulitan mencari dokter untuk program tersebut. Karena harus diakui bahwa tidak semua pelayan kesehatan mampu membiayai perjalanannya sendiri seperti halnya kami yang harus mati-matian berjuang supaya bisa berangkat menuju desa sasaran untuk kegiatan sosial ini. Lalu beberapa hari menjelang keberangkatan, Saudari Ipaq Suripaq kepala divisi kesehatan mengumumkan kabar menggembirakan, bahwa akan ada dua dokter senior yang akan ikut dengan kami meskipun dengan biaya sendiri, Perfecto! Akhirnya kamipun lega karena ada juga dokter-dokter yang masih peduli dengan kegiatan kami. Kami sendiri sudah hampir mau membatalkan program pelayanan kesehatan jika tidak ada satupun dokter dokter yang ikut dan hanya akan menyumbangkan obat obatan tersebut di puskesmas kecamatan Nggaha Oriangu. Begitupun di tim pendidikan yang diketuai Ms. Sita yang akhirnya hanya bisa mendelegasikan program pendidikannya kepada anak buahnya karena berhalangan dengan pekerjaannya.

Tentang dana yang kami dapat, selain dari para donatur langsung, kami juga harus mendadak menjadi penjual souvenir souvenir yang tanggap dalam melihat kesempatan.

Mug, kaos, gelang hingga pin dan pouch selalu ada di dalam daftar bawaan kami setiap hari untuk kami untuk dijual kepada kawan kawan lain. Bahkan ada juga yang harus bertansaksi di malam hari di pinggir jalanan Jakarta hanya untuk menjual satu atau dua item saja!

Juga dalam sebuah bazar yang diselenggarakan milis lain kami harus meluangkan waktu menjadi penjaga booth secara bergantian, semata mata untuk menjual dan memperkenalkan masyarakat akan kegiatan kami. Syukur syukur jika ada yang mau menyumbang. Dalam acara bazar itupun tim Fund rising menyisipkan konser amal dengan mengundang Ari Malibu sebagai bintang panggungnya. Hasilnya? Bagus sekali. Karena akhirnya banyak juga yang mulai mengenal 1n3b dan menunjukkan ketertarikan untuk bergabung dan menyumbang.

Akhirnya, Pada pertengahan Juni 2010, buku buku beserta peralatan tim pendidikan dan tim kesehatan yang berat totalnya adalah 776 kg berhasil dikirimkan melalui ekspedisi laut ke desa sasaran, Desa Ngadulanggi, Kecamatan Nggaha OriAngu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

Setidaknya kami sedikit lega, setidaknya barang-barang itu telah terkirim, setidaknya sebagian kecil amanat penyumbang sudah terlaksana …

Lalu kami harus bersiap siap untuk langkah berikutnya, menuju Ngadulanggi….

 

Tulisan dari Blog Kak Susan

More from Blogs
Back to Top